Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tradisi Tahlilan Mulai dirubah Karena Tekanan Ekonomi

 Baru baru ini, terdengar kabar bahwa di sebagian wilayah jepara, sudah mulai disepakati adanya perubahan tradisi tahlilan saat ngajikake hari pertama sampai ke tujuh. Sebenarnya ini sudah kami bahas di warganu.com tentang adanya tradisi ini. Tetapi karena semakin mencuatnya keresahan beberapa warga yang memang faktor ekonomi. 


Bagaimana tidak? kita kaji pokok permasalahan, yaitu bukan karena amalan ini bertentangan dengan syariat bukan sama sekali. Permasalahannya ini murni faktor ekonomi saja. Jika ekonomi keluarga yang ditinggal adalah golongan orang kaya maka tidak ada masalah. Namun seiring berjalannya waktu, Jepara bukan seperti yang dulu, dulu masyarakat jepara bergantung dengan usaha mebel yang hampir seluruh penjuru warga jepara. Akan tetapi sekarang, Usaha mebel ini tidak seperti yang dulu yang bisa diandalkan untuk kehidupan. 

Permasalahan yang kedua adalah pergeseran sosial. Dahulu, orang ngajikake itu adalah kalangan bapak-bapak saja atau kaum adam yang datang ikut dalam acara tahlilan hari pertama sampai ke tujuh. Namun sekarang perempuan atau kaum hawa bahkan ada anak diantara mereka juga ikut serta dalam acara tahlilan. Sehingga mau tidak mau, yang punya rumah atau shohibul bait secara otomatis menambah sedekahnya yang berupa jajanan untuk kaum hawa ini dan juga anak mereka yang diajak. Oleh karena itu, juga menambah biaya pengeluaran bagi keluarga yang kena musibah. Bahkan seringkali, wewehan dari para pentakziyah seperti gula atau beras sampai dijadikan bingkisan untuk acara tahlilan di hari ke tujuh. Artinya kembali lagi kepada warga. bisa jadi habis bahkan beli lagi karena saking banyaknya warga yang ikut serta tahlilan. Bisa jadi masih ada sisa. 

Permasalahan yang ketiga adalah hutang si mayit. Bagi keluarga yang terkena musibah, mereka sudah ditinggal oleh orang yang disayanginya. Belum lagi harus menanggung hutang jika si mayit punya hutang. Karena hutang ini adalah wajib di bayar. Dan rata-rata jika hutang sedikit artinya masih di angka ratusan ribu rupiah ini banyak yang merelakan. Akan tetapi jika hutangnya sudah menyentuh angka jutaan rupiah, ini tidak banyak orang merelakan. Mereka akan menagih hutang. Ditambah lagi jika kondisinya tidak siap untuk bersedekah, maka keluarga yang terkena musibah akan berhutang hanya untuk memenuhi keperluan jajanan tahlilan yang hukumnya secara syariat adalah sunnah, bukan sebuah kewajiban. Sedangkan membayar hutang adalah wajib. Inilah yang menjadi beban dan tekanan ekonomi yang tidak bisa dihindari oleh keluarga musibah. 

Belum lagi masalah amplop kepada kyai atau ustadz yang memimpin tahlilan. Di sebagian daerah, hanya satu orang saja sebagai kyai atau ustadz yang memimpin tahlilan. Hal ini karena kepekaan dan kesadaran para kyai atau ustadz untuk tidak maju selama sudah ada yang memimpin. Karena biarlah beban amplop hanya satu amplop saja kepada pemimpin tahlil tersebut. Akan tetapi sebagian daerah yang lain, justru dimanfaatkan oleh oknum yang mengaku ustadz atau kyai atau yang dijadikan sesepuh untuk datang dan menjadi ikut bagian dari acara ritual tahlilan tersebut. Entah di bagian tahlilnya, atau bagian berdoanya saja. Bisa jadi dua orang, bahkan ada yang tiga orang atau ada yang lebih. 

Jadi hal semacam inilah yang menambah beban bagi si keluarga yang tinggal dan terkena musibah tersebut.

Lalu bagaimana solusinya??

ya harus dikembalikan seperti awal mulanya saja, yaitu:

1. Para peserta tahlilan hanya kaum laki-laki saja. dan kaum perempuan tidak diperbolehkan. 

2. Jajanan sebagai sedekahan hanya di hari ke tujuh saja. dan tidak ada lagi di hari setiap jumat. Jika keluarga sendiri mengadakan acara tahlilan maka tidak dilarang.

3. Pemimpin tahlilan hanya satu orang saja. 

maka dengan seperti ini, beban keluarga yang terkena musibah akan lebih ringan. Karena sesungguhnya adab untuk bertetangga jika ada kematian, maka para tetangga sekitarnya adalah untuk meringankan beban keluarga yang terkena musibah. 

Maka inilah jalan yang terbaik untuk bisa diikuti oleh semua pihak, baik dari keluarga yang mampu atau yang kurang mampu.

Posting Komentar untuk "Tradisi Tahlilan Mulai dirubah Karena Tekanan Ekonomi"